Minggu, 11 Desember 2011

Merenung

Inilah jalan Tuhan untuk hidupku, bagaimana pun juga aku harus bisa menerima ini semua. Tapi mengapa yang kurasakan selama ini begitu berat. Apa ini perasaanku saja ? Ya, semoga saja begitu. Karna aku tahu Tuhan pasti akan memberikan cobaan kepada hambanya yang tidak melebihi kemampuannya. Maka apa pun cobaan itu harus di hadapi dan aku yakin pasti ada jalan keluarnya. Jangan pernah sekali-kali menyerah sebelum mencobanya. Berkata seperti itu si mudah tapi kalau sudah menjalaninya hanyalah emosi yang ada. Apalagi kalau masalah yang lalu belom selesai sudah datang masalah baru lagi. Rasanya pengin mati aja kalau kayak gitu.

Aku mulai mengerti ini semua ya karena aku mendapatkan cobaan yang di luar dugaanku. Tapi apa boleh buat kata ibu 'semua harus di jalani dan di selesaikan dengan bijaksana'. Tuhan sudah memberikan seseorang yang selalu ada di saat ak membutuhkan bantuan. Namun, kadang-kadang ak belom menyadari sepenuhnya. Itu datang hanyalah sesaat. Dan inilah pelajaran hidup. Jika tanpa masalah kita serasa tidak hidup karena yang dirasakan hanyalah seperti itu saja (monoton). Terima kasih Tuhan kau sudah memberik apa yang menjadi bagian dari hidupku :*



Minggu, 04 Desember 2011

BUKU

BUKU

Minggu, 20 November 2011

BUKU

Kita mungkin sering mendengar buku adalah jendela dunia. Ya benar buku merupakan jendela bagi kita yaitu siswa. Buku merupakan salah satu arahan dimana kita bisa mengerti apa yang belum kita mengerti. Sangatlah penting kita sebagai siswa membaca buku. Buku adalah media yang kita butuhkan dan mudah dicari, misal kita kesulitan dalam pelajaran dan kita ingin membeli atau meminjam buku pelajaran itu karena menginginkannya kita bisa pergi ke toko buku atau datang ke perpustakaan.
Tak ada guru, buku pun jadi. Bagaimana tidak jika guru berhalangan untuk tidak mengajar maka kita dapat membaca buku di perpustakaan atau di internet. Di jaman yang serba modern ini kita bisa membaca buku lewat internet. Mudah bukan ? Semakin kita banyak membaca buku wawasan kita yang awalnya minim bisa bertambah. Namun di negara tercinta ini minat membaca buku belum mendunia. Hal ini sangat disayangkan karena banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil dari membaca buku, yaitu :
o Menambah wawasan
o Menambah ilmu dalam bidang apapun
o Memberikan motivasi dalam diri kita
o Mengisi waktu luang
o Mengambil suatu kesan dan pesan yang baik
Dengan begitu apa susahnya meluangkan waktu kita untuk membaca buku , membaca buku itu sangat mengasyikkan. Apalagi jika buku itu mengandung unsur yang menyedihkan kita bisa ikut hanyut dalam kesedihan tersebut atau mengandung unsur lucu kita bisa tertawa sendiri ketika membacanya. Ya mungkin ada beberapa faktor yang menghambat minat membaca buku, antara lain :
 Ada hal yang lebih menarik daripada membaca buku
 Menghabiskan waktu saja
 Belum menyadari akan pentingnya membaca buku
 Malas membaca buku
 Gengsi atau malu
Kita pasti ingin negara kita ini lebih maju dari sebelumnya kan ? Maka mulailah dari saat ini untuk membaca buku. Dimana saja kapan saja kita bisa membaca buku. Membaca buku itu tidak ada ruginya. Jika sudah mendunia dalam dirimu pasti akan membaca buku yang mempunyai tingkatan lebih. Dan menjadikan motivasi dalam dirimu sehingga bisa memperbaiki bangsa Indonesia ini.

Senin, 07 November 2011

Jumat, 04 November 2011

St. Carolus Borromeus


Santo Carolus Borromeus

St. Carolus Borromeus adalah seorang muda yang kaya. Ia lahir pada 2 Oktober 1538. Ayahnya bernama Gilbert Borromeus dan ibunya Margaret de Medici. Dia berasal dari keluarga bangsawan. Pamannya adalah Paus Pius IV.

Sejak kecil Carolus muda sudah bercita-cita menjadi seorang pastor yang baik. Pada masanya komunitas Protestan baru saja lahir. Komunitas ini tidak percaya pada Sakramen Ekaristi dan sakramen lainnya. Carolus sedih karena hal tersebut.


Pada masa itu, di samping karena kehancuran akibat perang dan berbagai penyakit menular, Italia sangat membutuhkan pastor-pastor yang biak, yang hidup menurut cara hidup orang pilihan Kristus. Italia juga sangat membutuhkan orang-orang Katolik yang baik, yang hidup menurut cara hidup Injili. Carolus melihat kebutuhan tersebut. Dia juga berusaha mewujudkannya.

Maka untuk menjawab kebutuhan tersebut, Carolus menjadi seorang pastor. Setelah menjadi pastor, ia sekolah jurusan hukum. Ia memperoleh gelar Doctor untuk Hukum Sipil dan Hukum Gereja pada tahun 1559. Sebagai Pastor muda, ia sudah dipercayakan banyak tugas penting oleh Tahta Suci.

Pada usia 22 tahun ia diangkat oleh Paus Pius menjadi Kardinal untuk Milan. Pada masa itu juga ia bertugas sebagai diplomat khusus untuk Kepausan. Ia secara khusus ditugaskan sebagai diplomat untuk “menangani” Konsili Trente.

Sebagai seorang Uskup dan Kardinal, dengan segala semangat muda yang ada padanya, Carolus bekerja keras untuk kepentingan orang miskin dan sakit. Dia mengunjungi orang-orang sakit ke rumah-rumah mereka dan ia juga meluangkan waktu untuk merawat orang-orang tersebut. Dia juga tidak merasa segan untuk duduk dipinggir jalan dan berbicara kepada orang-orang jalanan perihal cara hidup yang baik menurut ajaran agama Katolik. Dia memberi mereka pelajaran-pelajaran di jalan-jalan. Dia berdoa bersama mereka.

Carolus begitu mencintai Gereja Katolik sebagai tanda cintanya yang luar biasa akan Kristus. Dia dipakai oleh Allah untuk membawa orang-orang yang sempat “tersesat” kembali kepangkuan bunda Gereja.

Carolus juga sangat aktif mendirikan seminari-seminari yang berkualitas untuk pendidikan calon pastor. Ia sadar bahwa seminari berperan penting untuk “pastor masa depan”. Di samping itu ia juga mendirikan banyak sekolah untuk anak-anak miskin dan juga untuk siapa saja yang berminat mendapat pendidikan bermutu.

Pada suatu waktu, penyakit menular berjangkit di Milan, kota keuskupannya. Carolus melibatkan diri merawat orang-orang yang sudah terjangkit dan membawa mereka untuk dirawat di rumah uskup.Sebagian pasien bahkan dirawat di kamar pribadinya. Ia begitu menaruh perhatian kepad pasien sehingga pada akhirnya ia sendiri juga terjangkiti oleh penyakit menular tesebut. Ia wafat karena penyakit menular yang berusaha dia sembuhkan. Carolus adalah martir cinta kasih. Ia wafat karena cinta kepada Kritus yang tampak dalam diri kaum menderita.

St. Carolus adalah Santo Pelindung untuk seminari, Borromeus Societies, perpustakaan umum, asrama-asrama, Keuskupan Basel dan Lugano dan Universitas Salzburg.

Pestanya dirayakan pada 4 November.

Senin, 31 Oktober 2011

Membaca

Membaca dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Karena selain menambah ilmu, membaca menambah wawasan kita yang masih minim. Dimana pun kita berada sempatkanlah waktumu untuk membaca entah koran, majalah, mading d sekolah, atau buku yang menarik bagi kita. Kebiasaan membaca dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan. Membaca buku-buku ilmu pengetahuan sangat berarti karena mengurangi beban memori ingatan kita.

Namun sayang di Indonesia, membaca belum mendunia di kalangan masyarakat. Masih sulit untuk mengubahnya, jika ada niat sih pasti semua bisa di lalui dengan mudah.  Kadang kita pikir bahwa membaca adalah hal yang membosankan karena hanya ada beratus-ratus kalimat yang kita lihat dalam lembaran-lembarannya. Tapi dari hal yang kita anggap membosankan itu akan berguna entah kapan dan pasti ada secarik pesan yang bisa kita ambil. Maka jangan pernah meremehkan 'membaca' karena mebaca itu sangatlah asyik, bisa mengisi waktu luang ya daripada bermain game atau menonton telivisi.

Seperti halnya banyak orang yang mengunjungi mall tiap harinya namun sedikit orang yang mengunjungi perpustakaan Kota/Wilayah. Hal itu sungguh terjadi di negara kita ini. Ya karena fasilitas yang kurang memadai. Sungguh memprihatinkan bukan.

Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang membaca sudah menjadi 'cemilan' sehari-hari. Tidak membaca sehari saja seperti ada yang kurang dalam hidupnya. Mungkin dari dua atau tiga penduduk, satu diantaranya pasti membaca.


Jangan pernah mengatakan 'tidak ada waktu untuk membaca'. Semua itu tergantung diri kita sendiri apakah kita mampu membagi waktu dengan baik? Ya meskipun masih banyak tugas/keperluan yang harus kita kerjakan.


 Jadi gunakan waktumu saat ini untuk hal-hal yang berguna seperti membaca dan jangan pernah menyesal di akhir nanti. Karena hidup hanya sekali dan kita tidak bisa mengulangnya.




Sabtu, 29 Oktober 2011

Mandi Setelah Begadang Dapat Menyebabkan Kematian

Buat yang suka begadang, pasti tau kalo begadang sangat tidak baik buat kesehatan. Bahkan kurang tidur bisa menyebabkan kematian, di tambah lagi kalo setelah begadang langsung mandi. Katanya bisa kena “Masuk Angin Stadium 5″ loh..!!

Dampak Kurang Tidur dan Mandi setelah Begadang bisa Menyebabkan Kematian
Selain itu, kalo mandi sehabis begadang juga beresiko terkena paru-paru basah dan Angin Duduk (gue masih belum ngerti tuh penyakit) yang bisa berakibat fatal, bahkan meninggal mendadak. Abis mandi lemes, pusing trus tidur tapi gak bangun lagi, serem kan..?

Ada sebuah cerita pengalaman nyata :


Mahasiswa seni rupa ITB yang ngerjain tugas akhir sambil begadang, dan pas besoknya mau presentasi buat sidang akhir, dia pulang dulu sekalian mandi, ternyata dia meninggal. Bener-bener yang namanya “tugas akhir” tuh.

Untuk penjelasan secara logis tentang sehabis begadang langsung mandi sederhananya adalah seperti ini :

Tubuh kamu yg begadang itu sebenarnya melakukan banyak aktivitas yg seharusnya pada waktu itu harus segera di istirahatkan. Karena banyak aktivitas yg terjadi di dalam tubuh kita, tanpa kita sadari terjadi pemanasan dari dalam tubuh kita.

Nah, bayangin aja kalo dari suhu tubuh yg panas tiba2 disiram dengan air di pagi hari yg suhunya jauh lebih dingin ketimbang suhu tubuh kamu, apa yg akan terjadi ??
yups, benar … Penurunan suhu tubuh yg sangat drastis dan spontan. Sedangkan tubuh kita tidak dirancang untuk itu.


Kejadian itu mempunyai logis yg sama halnya dengan “terjun dari ketinggian yg menggunakan parasut” dan “terjun tanpa menggunakan parasut” .
Bisa membayangkan apa akibatnya ?? sangat jauh berbeda bukan ??
Makanya sangat dilarang untuk tidak langsung mandi disaat setelah begadang.. Karena berbahaya…!!!

Kamis, 27 Oktober 2011

Ujian Nasional Dan Kondisi Psikis Siswa


Ujian Nasional, sepertinya masalah ini sudah basi atau tidak pentingkah? Karena saat ini kita tengah disibukkan oleh euforia Pilpres, dan sudah bisa dipastikan siapa pemenangnya. Tapi saat ini tidaklah saya ingin membahas masalah pilpres ini, bukan berarti tidak penting. Biar dan ijinkalah saya mengulas sedikit tentang dampak Ujian Nasional pada kondisi psikis anak atau siswa. Siapa peduli! Tapi biarlah karena ini hanyalah rasa empati saya yang begitu besar terhadap dunia pendidikan, sebab saya pernah menjadi seorang pendidik untuk beberapa tahun menangani langsung siswa yang akan menghadapi UN. Dulu namanya Ebtanas dan selalu berubah setiap era.

Dalam hal ini yaitu mengenai kondisi psikis anak ketika menghadapi Ujian, apakah kita sebagai orangtua atau guru membantu mereka mengelola emosi, agar bisa bersikap tenang dalam menghadapi pertempuran atau kekalutan bernama Ujian Nasional ini. Adakah kita para orangtua maupun guru menciptakan suasana yang kondusif agar mereka siswa tersebut bisa menyikapi atau mempersiapkan mental dengan baik agar semangat menghadapinya(UN)? Tanyalah pada diri kita sendiri sebagai orangtua atau guru. Jangan-jangan malah kita menciptakan suasana yang tegang, sehingga belum saja menjalani UN, siswanya sudah nervous, tertekan, khawatir, takut tidak lulus dan banyak ketakutan-ketakutan lainnya.

Otak dan pikiran mereka kita jejali dengan latihan-latihan soal, dalam pandangan mereka kita gambarkan bahwa meraih NEM atau nilai berdasarkan standart nasional berapa, (tanya saja pada mereka yang berkompeten), tertinggi adalah harga mati. Atau tinggal pilih mau lulus atau tidak, terserah yang penting kita bisa menjejali mereka bahasan-bahasan soal yang memusingkan kepala. Lagi-lagi siswa selalu jadi korban, mau protes apa ada yang menyikapi. Garis bawahi, jika siswa sudah duduk di kelas III, maka mereka akan dilatih untuk menjawab a,b,c dan d. Latihan soal ini dan soal itu, terkadang kurang di jam pelajaran, ditambah lagi dengan les, bahkan ada yang ikut bimbel. Waktu diisi hanya berpacu dengan soal dan soal, materi nomor kesekian, ilmu yang didapat siswa itu urusan nantilah. Jika siswa ada yang gagal maka mereka yang disalahkan, tapi kalau mereka dapat nilai bagus maka semua berbangga hati.

Bukan berarti UN itu tidak penting, namun disini yang harus diperhatikan adalah kesiapan kondisi psikis anak atau siswa itu harus diperhatikan. Tidaklah harus main-main menghadapi UN tersebut. Kita sebagai orangtua atau guru haruslah mengkondisikan mental anak dengan baik., dampingi mereka. Karena mempersiapkan mental yang baik dalam menghadapi ujian itu penting. Kita tidak mesti menuntut anak secara berlebihan agar mereka jadi juara dengan tekanan-tekanan secara lisan. Harus dapat NEM tinggi atau harus dapat rangking terbaik atau harus-harus yang lainnya lagi. Persiapan untuk belajar saja anak atau siswa tersebut sudah capek lahir batin, apalagi dengan tuntutan-tuntutan kita yang terlalu over. Seolah-olah NEM tinggi itu adalah segala-galanya. Cukuplah sudah kita membebani mereka dengan jadwal-jadwal padat dalam menghadapi ujian. Belum lagi ditambah peraturan-peraturan yang sudah terpusat dalam mengatur tentang UN ini. Jangan ditambah lagi dengan hal remeh temeh yang dapat berakibat fatal, hingga siswa benar-benar gagal menempuh UN, hanya karena kondisi mental yang jatuh.

Saya yakin kita, anda para orangtua dan pendidik yang berhubungan langsung dengan anak atau siswa dapat bersikap arif dan bijak menyikapi hal ini. Dan sebagai anak atau siswa, haruslah menghadapi ujian ini dengan penuh tanggungjawab, kesatria dan jujur. Marilah kita ciptakan suasana yang kondusif agar siswa dapat menghadapi dan menjalani ujian nasional ini dengan hati yang tenang dan senang. Mereka bahagia dan semangat menghadapi dan menjalaninya tanpa ada beban, dibarengi dengan doa dan usaha mereka yang maksimal, maka yakinlah kita akan melihat keberhasilan mereka. Tapi ingat ilmu atau materi itu penting ditransfer kepada siswa, tidak hanya mengutamakan latihan-latihan soal yang sifatnya temporal atau instan. Kasihan jika kita mencetak lulusan yang tak berilmu pengetahuan. Coba bayangkan “Andai Ujian Nasional, Seperti Sebuah Pesta,” maka siswa akan menyonsongnya dengan penuh kegembiraan, bahkan dengan semangat dan keriangan diwajah yang terus terpancar.

Perpisahan #IX Teratai#

Pak Parno .....

 Terima kasih...

 Karna kau telah sabar membimbing kami,

 kau telah memberikan tanggung jawab besar,

 kau kerja keras untuk membuat kami smangat,

 kau berjuang 'tuk memberikan contoh yang baik,

 semua pengorbananmu tak terhingga.



 sebagai balas budi kami padamu kami berjanji tuk menjadi kebanggaanmu.

 menjadi sperti yang kau inginkan.

 Melihat kami meraih cita-cita, agar kelak kau tersenyum bahagia.

 Karna semua didikanmu tak sia-sia.



 Percayalah Pak Parno....

 Kita takkan ingkar janji,

 Janji demi balas budi kami padamu untuk dirimu seorang dan tuk' masa depan kami anak didikmu.



 Kami berdoa agar Bapak selalu diberikan berkah kebahagiaan dalam kehidupan Bapak selanjutnya.

 Selamat berjuang bersama kami di jalan kita masing-masing.

 Doa Bapak selalu kami harapkan.

 Terimakasih Pak Parno..

 GBU :)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | ewa network review